Di
malam larut Indra menyusuri trotoar jalan yang gelap dengan langkah perlahan.
Lelah dan penat menelusuri tubuhnya. Kaus dan celana jeans hitam yang ia kenakan sudah tampak kusut. Sesekali ia
membetulkan letak kacamatanya yang mulai melorot.
Kepalanya
terus menunduk dalam setiap langkahnya. Ada terlalu banyak beban yang
ditanggungnya. Bukan beban ransel yang ia gendong, namun beban hidup. Keluarga
yang tak harmonis, orangtua yang ingin bercerai, nilai kuliah yang berantakan, dikhianati
pacar yang malah selingkuh dengan teman sendiri, semua kenyataan pahit yang
datang bertubi-tubi, semuanya begitu kacau.
Langkahnya
tiba-tiba terhenti di depan sebuah toko roti yang sudah tutup. Sayup-sayup
terdengar suara perempuan meminta tolong dari arah belakang. Indra tidak langsung
menengok ke belakang. Ini di tengah kota, dan ini tengah malam, ia tetap harus
waspada dari kejahatan. Suara itu semakin lama semakin mengeras, semakin
mendekat. Indra menongok ke arah belakang dan seketika tubuhnya terdorong ke
sebuah gang sempit di pinggir toko roti. “Aw !” Mulut Indra refleks mengeluarkan suara, namun seketika
mulutnya dibungkam oleh sebelah telapak tangan seorang perempuan yang tadi
berteriak meminta tolong. Ketika ia dan perempuan itu sudah berada dalam gang
sempit yang gelap, beberapa detik kemudian terdengar suara langkah kaki
beberapa orang berlari-lari kecil melewati gang. Satu orang diantara mereka
menghentikan langkahnya tepat di depan gang. Indra dan perempuan itu menahan
nafas. Orang itu hanya diam beberapa detik lalu berlari lagi mengikuti
teman-temannya.
“Sorry” Kata perempuan itu sambil
melepaskan telapak tangannya dari mulut Indra.
“Saya
gak bisa nafas” Indra mengatur nafasnya yang tersengal-sengal agar kembali
normal.
“Maaf,
abisnya tadi kamu teriak” Jawab perempuan itu disela nafas yang
tersengal-sengal
“Emangnya
ada apaan sih?” Tanya Indra kesal.
“Saya
gak bisa cerita sama kamu, yang jelas ini masalah serius” Perempuan itu menyenderkan
punggungnya pada dinding pembatas gang sambil mengatur nafasnya yang masih
tersengal-sengal.
“Terus
kenapa saya jadi kebawa-bawa gini?” Indra juga menyenderkan punggung di dinding
yang sama, di sebelah perempuan itu.
“Tenang
aja kamu bakalan aman kok asalkan kamu tetep di sini sampai besok pagi saat
jalanan mulai ramai lagi” Kata perempuan itu sambil menepuk-nepuk bahu Indra.
“Terus
saya harus tidur disini?” Ada nada kesal dalam kalimatnya.
“Kalau
kamu mau aman” Jawab perempuan itu santai.
“Ya
Tuhan, kenapa hidup begitu sial!” Kata Indra sedikit mengerang sambil menjambak
rambutnya dengan kedua tangan.
“Tuhan
ga salah apa-apa, pasti ada alasannya kenapa Dia kasih kamu cobaan kaya gini”
Kata perempuan itu sambil menepuk-nepuk bahu Indra.
“Kamu
itu gak kenal saya! kamu gak tau apa-apa soal saya! Jadi jangan sok tau!”
Bentak Indra penuh emosi pada perempuan itu.
Dibentak
seperti itu oleh Indra, perempuan itu hanya terdiam. Keduanya saling terdiam
sampai akhirnya kaki mereka mulai merosot dan tertidur dalam posisi duduk.
Jalanan
mulai ramai, orang-orang hilir mudik di trotoar, dan hari sudah cocok disebut
pagi. Indra memicingkan matanya karena silau tersorot sinar matahari. Perempuan
di sebelahya masih terlelap dalam tidur. Sekarang Indra dapat melihat wajah
perempuan itu dengan jelas. Perempuan itu tampak lebih tua darinya, kira-kira 25
tahun, 5 tahun lebih tua darinya. Wajahnya masih muda, rambut panjangnya
menjuntai indah di kepalanya, terlihat lusuh namun cantik.
Perempuan
itu mengerjap-ngerjapkan matanya, menyesuaikan dengan cahaya disekitarnya.
“Udah
bangun kamu?” Tanya perempuan itu pada Indra sambil menegapkan badan dari
senderannya.
“Udah
dari tadi” Jawab Indra tenang, tidak dengan emosi seperti semalam.
“Kenapa
gak langsung pulang?” Tanya perempuan itu sambil mengucir rambutnya.
Indra
hanya tergagap, bingung harus menjawab apa. Kemudian perempuan itu keluar dari
gang dan Indra mengikutinya. Mereka berjalan beriringan menyusuri trotoar yang
ramai.
“Saya
gak ngerti sebenarnya semalam itu apa yang terjadi?” Tanya Indra mulai
penasaran.
Perempuan
itu menghembuskan nafas dengan bersuara lalu berkata “Saya rasa kamu perlu tau”
Ia menghentikan langkahnya di tempat sepi lalu menatap Indra dan melanjutkan
kalimatnya dengan nada suara yang amat rendah. “Saya terlibat kasus jual beli
narkoba dan yang semalam mengejar saya itu adalah polisi”
Terlihat
ekspresi terkejut di wajah Indra namun seketika Indra bisa menguasai dirinya
saat perempuan itu mulai melanjutkan lagi penjelasannya. “Sebenarnya saya tidak
terlibat langsung, saya hanya menjalankan bisnis dengan teman saya, tapi
ternyata bisnis yang dia maksud adalah perjualbelian narkoba” Perempuan itu
berhenti sejenak, memastikan tidak ada yang menguping pembicaraan mereka, lalu
melanjutkan lagi kalimatnya. “Tapi dia mengkhianati saya, dia melarikan diri
dan melimpahkan semua masalahnya pada saya” Indra terdiam medengar penjelasan
itu. Ia menggarisbawahi kata ‘mengkhianati’ dalam penjelasan perempuan itu. Ia
menyadari bahwa tidak hanya ia yang dikhianati di dunia ini, jadi masalah
dikhianati tidaklah menjadi beban berat lagi sekarang.
Mereka
melanjutkan berjalan sampai akhirnya tiba di sebuah pemukiman kumuh di tengah
kota.
“Mama!”
Teriak seorang anak laki-laki kecil sambil berlari menghampiri Indra dan
perempuan itu. Indra sedikit tertegun. Mama?
Jadi perempuan ini sudah punya anak?
“Iya
sayang, mama kangen banget deh sama kiki” Kata Perempuan itu sambil memeluk
kiki, anak laki-laki kecil itu.
“Ini
anak saya” Ucap perempuan itu pada Indra. Indra hanya diam.
Terlihat
pandangan tidak suka dari tetangga sekitar melihat kedatangan perempuan itu.
Indra merasakannya, begitu pula perempuan itu. “Mereka tidak suka saya, karena
menurut mereka saya orang tidak baik, terlebih saat saya masih bersama ayah
kiki” Kata perempuan itu seolah menangkap apa yang ada dipikiran Indra. “Ayah
kiki tukan mabuk, judi, main perempuan, warga disini tidak suka keluarga kami”
Perempuan itu mulai terbuka pada Indra. “Kami sering cekcok setiap hari, warga
disini risih dengan keadaan itu” Perempuan itu mengelus rambut Kiki, segurat
sedih tersirat di wajahnya. “Tapi walaupun kami sering bertengkar, kami sagat
menyayangi Kiki” Mata perempuan itu mulai berkaca-kaca. “Saya dan ayah Kiki,
selalu memikirkan yang terbaik untuk Kiki, hingga akhirnya kami memutuskan
untuk berpisah”
Satu
hal lagi yang membuat Indra tersadar, tidak hanya ia yang memiliki keluarga
yang tidak harmonis, dan setiap orang tua akan selalu menyayangi anaknya, jadi
perceraian bukanlah suatu masalah besar kalau itu memang yang terbaik.
Terdengar
bunyi sirine mobil polisi dari kejauhan. Indra mulai panik dan hendak menarik
lengan perempuan itu, namun perempuan itu menepisnya dan hanya diam saja sambil
terus memeluk anaknya dan menangis.
“Jangan
bergerak! Kami sudah mengepung anda saudari Selly!” teriak polisi itu dengan
tegas sambil mengacungkan pistolnya ke arah Selly. Perlahan-lahan mereka mulai
mendekat dan menangkap Selly. Kiki menangis sekencang-kencangnya saat dipisahkan
dari pelukkan ibunya. Indra hanya diam beberapa langkah dari Selly dan Kiki.
Perlahan Selly digiring polisi meninggalkan Kiki dalam tangisannya. Mobil
polisi mulai meraung-raungkan lagi sirinenya dan melaju menjauh. Kiki
berlari-lari mecoba menggapi mobil itu, namun Indra meraih dan memeluknya.
Peristiwa
semalam dan hari ini adalah hal berharga bagi Indra. Indra menyadari bahwa setiap
manusia mempunyai masalah dalam kehidupannya, tapi ingatlah kita tidak sendiri.
Ada jalan terbaik dari setiap masalah. Dan yang terpenting adalah ingtlah bahwa
Tuhan mempunyai rencana indah di masa depan. Masih ada kehidupan di masa depan.
~TAMAT~