Sabtu, 20 Oktober 2012

ADA KEHIDUPAN DI MASA DEPAN


Di malam larut Indra menyusuri trotoar jalan yang gelap dengan langkah perlahan. Lelah dan penat menelusuri tubuhnya. Kaus dan celana jeans hitam yang ia kenakan sudah tampak kusut. Sesekali ia membetulkan letak kacamatanya yang mulai melorot.
Kepalanya terus menunduk dalam setiap langkahnya. Ada terlalu banyak beban yang ditanggungnya. Bukan beban ransel yang ia gendong, namun beban hidup. Keluarga yang tak harmonis, orangtua yang ingin bercerai, nilai kuliah yang berantakan, dikhianati pacar yang malah selingkuh dengan teman sendiri, semua kenyataan pahit yang datang bertubi-tubi, semuanya begitu kacau.
Langkahnya tiba-tiba terhenti di depan sebuah toko roti yang sudah tutup. Sayup-sayup terdengar suara perempuan meminta tolong dari arah belakang. Indra tidak langsung menengok ke belakang. Ini di tengah kota, dan ini tengah malam, ia tetap harus waspada dari kejahatan. Suara itu semakin lama semakin mengeras, semakin mendekat. Indra menongok ke arah belakang dan seketika tubuhnya terdorong ke sebuah gang sempit di pinggir toko roti. “Aw !” Mulut Indra refleks mengeluarkan suara, namun seketika mulutnya dibungkam oleh sebelah telapak tangan seorang perempuan yang tadi berteriak meminta tolong. Ketika ia dan perempuan itu sudah berada dalam gang sempit yang gelap, beberapa detik kemudian terdengar suara langkah kaki beberapa orang berlari-lari kecil melewati gang. Satu orang diantara mereka menghentikan langkahnya tepat di depan gang. Indra dan perempuan itu menahan nafas. Orang itu hanya diam beberapa detik lalu berlari lagi mengikuti teman-temannya.
Sorry” Kata perempuan itu sambil melepaskan telapak tangannya dari mulut Indra.
“Saya gak bisa nafas” Indra mengatur nafasnya yang tersengal-sengal agar kembali normal.
“Maaf, abisnya tadi kamu teriak” Jawab perempuan itu disela nafas yang tersengal-sengal
“Emangnya ada apaan sih?” Tanya Indra kesal.
“Saya gak bisa cerita sama kamu, yang jelas ini masalah serius” Perempuan itu menyenderkan punggungnya pada dinding pembatas gang sambil mengatur nafasnya yang masih tersengal-sengal.
“Terus kenapa saya jadi kebawa-bawa gini?” Indra juga menyenderkan punggung di dinding yang sama, di sebelah perempuan itu.
“Tenang aja kamu bakalan aman kok asalkan kamu tetep di sini sampai besok pagi saat jalanan mulai ramai lagi” Kata perempuan itu sambil menepuk-nepuk bahu Indra.
“Terus saya harus tidur disini?” Ada nada kesal dalam kalimatnya.
“Kalau kamu mau aman” Jawab perempuan itu santai.
“Ya Tuhan, kenapa hidup begitu sial!” Kata Indra sedikit mengerang sambil menjambak rambutnya dengan kedua tangan.
“Tuhan ga salah apa-apa, pasti ada alasannya kenapa Dia kasih kamu cobaan kaya gini” Kata perempuan itu sambil menepuk-nepuk bahu Indra.
“Kamu itu gak kenal saya! kamu gak tau apa-apa soal saya! Jadi jangan sok tau!” Bentak Indra penuh emosi pada perempuan itu.
Dibentak seperti itu oleh Indra, perempuan itu hanya terdiam. Keduanya saling terdiam sampai akhirnya kaki mereka mulai merosot dan tertidur dalam posisi duduk.
Jalanan mulai ramai, orang-orang hilir mudik di trotoar, dan hari sudah cocok disebut pagi. Indra memicingkan matanya karena silau tersorot sinar matahari. Perempuan di sebelahya masih terlelap dalam tidur. Sekarang Indra dapat melihat wajah perempuan itu dengan jelas. Perempuan itu tampak lebih tua darinya, kira-kira 25 tahun, 5 tahun lebih tua darinya. Wajahnya masih muda, rambut panjangnya menjuntai indah di kepalanya, terlihat lusuh namun cantik.
Perempuan itu mengerjap-ngerjapkan matanya, menyesuaikan dengan cahaya disekitarnya.
“Udah bangun kamu?” Tanya perempuan itu pada Indra sambil menegapkan badan dari senderannya.
“Udah dari tadi” Jawab Indra tenang, tidak dengan emosi seperti semalam.
“Kenapa gak langsung pulang?” Tanya perempuan itu sambil mengucir rambutnya.
Indra hanya tergagap, bingung harus menjawab apa. Kemudian perempuan itu keluar dari gang dan Indra mengikutinya. Mereka berjalan beriringan menyusuri trotoar yang ramai.
“Saya gak ngerti sebenarnya semalam itu apa yang terjadi?” Tanya Indra mulai penasaran.
Perempuan itu menghembuskan nafas dengan bersuara lalu berkata “Saya rasa kamu perlu tau” Ia menghentikan langkahnya di tempat sepi lalu menatap Indra dan melanjutkan kalimatnya dengan nada suara yang amat rendah. “Saya terlibat kasus jual beli narkoba dan yang semalam mengejar saya itu adalah polisi”
Terlihat ekspresi terkejut di wajah Indra namun seketika Indra bisa menguasai dirinya saat perempuan itu mulai melanjutkan lagi penjelasannya. “Sebenarnya saya tidak terlibat langsung, saya hanya menjalankan bisnis dengan teman saya, tapi ternyata bisnis yang dia maksud adalah perjualbelian narkoba” Perempuan itu berhenti sejenak, memastikan tidak ada yang menguping pembicaraan mereka, lalu melanjutkan lagi kalimatnya. “Tapi dia mengkhianati saya, dia melarikan diri dan melimpahkan semua masalahnya pada saya” Indra terdiam medengar penjelasan itu. Ia menggarisbawahi kata ‘mengkhianati’ dalam penjelasan perempuan itu. Ia menyadari bahwa tidak hanya ia yang dikhianati di dunia ini, jadi masalah dikhianati tidaklah menjadi beban berat lagi sekarang.
Mereka melanjutkan berjalan sampai akhirnya tiba di sebuah pemukiman kumuh di tengah kota.
“Mama!” Teriak seorang anak laki-laki kecil sambil berlari menghampiri Indra dan perempuan itu. Indra sedikit tertegun. Mama? Jadi perempuan ini sudah punya anak?
“Iya sayang, mama kangen banget deh sama kiki” Kata Perempuan itu sambil memeluk kiki, anak laki-laki kecil itu.
“Ini anak saya” Ucap perempuan itu pada Indra. Indra hanya diam.
Terlihat pandangan tidak suka dari tetangga sekitar melihat kedatangan perempuan itu. Indra merasakannya, begitu pula perempuan itu. “Mereka tidak suka saya, karena menurut mereka saya orang tidak baik, terlebih saat saya masih bersama ayah kiki” Kata perempuan itu seolah menangkap apa yang ada dipikiran Indra. “Ayah kiki tukan mabuk, judi, main perempuan, warga disini tidak suka keluarga kami” Perempuan itu mulai terbuka pada Indra. “Kami sering cekcok setiap hari, warga disini risih dengan keadaan itu” Perempuan itu mengelus rambut Kiki, segurat sedih tersirat di wajahnya. “Tapi walaupun kami sering bertengkar, kami sagat menyayangi Kiki” Mata perempuan itu mulai berkaca-kaca. “Saya dan ayah Kiki, selalu memikirkan yang terbaik untuk Kiki, hingga akhirnya kami memutuskan untuk berpisah”
Satu hal lagi yang membuat Indra tersadar, tidak hanya ia yang memiliki keluarga yang tidak harmonis, dan setiap orang tua akan selalu menyayangi anaknya, jadi perceraian bukanlah suatu masalah besar kalau itu memang yang terbaik.
Terdengar bunyi sirine mobil polisi dari kejauhan. Indra mulai panik dan hendak menarik lengan perempuan itu, namun perempuan itu menepisnya dan hanya diam saja sambil terus memeluk anaknya dan menangis.
“Jangan bergerak! Kami sudah mengepung anda saudari Selly!” teriak polisi itu dengan tegas sambil mengacungkan pistolnya ke arah Selly. Perlahan-lahan mereka mulai mendekat dan menangkap Selly. Kiki menangis sekencang-kencangnya saat dipisahkan dari pelukkan ibunya. Indra hanya diam beberapa langkah dari Selly dan Kiki. Perlahan Selly digiring polisi meninggalkan Kiki dalam tangisannya. Mobil polisi mulai meraung-raungkan lagi sirinenya dan melaju menjauh. Kiki berlari-lari mecoba menggapi mobil itu, namun Indra meraih dan memeluknya.
Peristiwa semalam dan hari ini adalah hal berharga bagi Indra. Indra menyadari bahwa setiap manusia mempunyai masalah dalam kehidupannya, tapi ingatlah kita tidak sendiri. Ada jalan terbaik dari setiap masalah. Dan yang terpenting adalah ingtlah bahwa Tuhan mempunyai rencana indah di masa depan. Masih ada kehidupan di masa depan.
~TAMAT~