“Kenapa kamu suka ngelukis?” Tanya Indra tiba-tiba saja pada Indri saat Indri sedang sibuk menggoreskan warna hijau dilukisannya. “Soalnya lukisan bisa mengekspresikan diriku” Jawab Indri sambil tersenyum tanpa memalingkan pandangannya dari kanvas putih yang mulai penuh warna. “Tapi kan mengekspresikan diri bisa dengan menulis ataupun bernyanyi. Kenapa harus melukis?” Tanya Indra lagi sambil memicingkan matanya, mengamati lukisan Indri lebih dalam. “Aku kan ga bisa nyanyi Ndra” Jawab Indri sambil mengalihkan pandangan pada Indra dengan kuas ditangannya yang masih melayang dari atas kanvas. “Kalo nulis?” Tanyanya lagi. “Aku gak pandai merangkai kata” Jawab Indri lagi sambil menghembuskan nafas sedikit kesal karena Indra terus saja menyuguhkannya berbagai pertanyaan.
Sore itu, di taman itu, Indra menemani Indri melukis sampai awan kemerah-merahan mulai muncul dilangit. “Pulang yuk !” Ajak Indra mulai bosan karena Indri tak mendengarkan perkataannya lagi. “Hemh, yaudah deh yuk ! udah sore.” Jawab Indri sambil membereskan perlengkapan melukisnya. Mereka berjalan menyusuri trotoar jalan menuju komplek rumah mereka yang bersebelahan. Sore itu, adalah sore kesekian kalinya mereka menghabiskan hari bersama.
“ Nih?” kata Indra sambil menyodorkan selembar kertas yang berisikan gambar dan tulisan warna-warni. “Apaan nih?” Tanya Indri heran. “Baca aja sendiri !” Jawab Indra singkat. Ternyata selebaran itu berisikan pengumuman akan diselenggarakannya lomba men-design batik dalam rangka Hari Batik Nasional. “Maksudnya apaan nih, kamu ngasih ini ke aku?” Tanya Indri lagi. “Aku mau kamu ikutan itu.” Jawab Indra dengan tatapan antusias. “Tapikan aku ga bisa design, aku bisanya lukis. Lagi pula ini design-nya dalam bentuk softfile loh, aku kan gaptek Ndra.” Jawab Indri sambil tertawa karena tak percaya Indra bisa berpikiran seperti itu. “Apa bedanya sih lukis ama design? Sama-sama ngegambar kan? Kalo masalah softfile, nanti aku yang bikinin. Ayolah, ikut yah?” Jawab Indra sekaligus membujuk Indri. “Tapi aku gak yakin aku bisa Ndra. Lagian ini kan temanya batik Indonesia, ngerti apa aku soal Indonesia?” Indri tetap tak mau ikut dengan seribu alasan. “Ayolah coba aja deh. Demi aku, sahabatmu yang ganteng ini hehe” Indra memohon sambil nyengir memamerkan sederetan gigi putihnya yang rapi. “hih ge-er banget deh kamu ! haha” Kata Indri sambil tertawa, lalu terdiam sejenak “Hemh, gimana yah?” Lanjutnya sambil berfikir. “Yaudah deh iya” Jawab Indri akhirnya.
Setiap hari setelah itu, Indra mendatangi rumah Indri. Menagih agar Indri segera menyelesaikan design-nya. Tinggal beberapa hari lagi pengiriman design akan ditutup. Indri harus segera menyelesaikannya. Dan akhrinya dua hari menuju hari penutupan, Indri menyelesaikan design-nya. Sangat indah. Bahkan menakjubkan ! entah dari mana ia mendapatkan ide itu. Warna dasar batik itu merah marun, coraknya agak kebiru-biruan, dan ada titik-titik kecil berwarna putih dibagian bawahnya. “Wow ! kalo kayak gini, aku yakin kamu menang” kata Indra kagum saat Indri memberikan design itu padanya.
Tinggal tersisa waktu kira-kira sehari lebih lagi untuk menyelesaikan design batik itu. Indra sangat berkerja keras agar design itu sesegera mungkin terselesaikan. Dua malam ini ia terus begadang, ditemani Indri tentunya. Mereka menjadi lebih dekat dari sebelumnya. Sangat dekat. Mungkin karena waktu yang mereka habiskan bersama lebih banyak dibanding sebelumnya.
Design itu akhirnya selesai dihari terakhir sebelum penutupan. Indra mengirim design itu lewat e-mail atas nama Indri tentunya. Tiga hari lagi pengumuman pemenang lomba itu akan diumumkan lewat e-mail. Indra sangat yakin bahwa Indri akan menang. Tapi entah kenapa Indri tak mengharapkan kemenangan itu. Ia tak ingin kemenangan itu. Bahwasanya, ia mengikuti ini semua hanya untuk Indra. Semata-mata karena Indra. Seperti permohonan Indra “Demi aku, sahabatmu yang ganteng ini”. Tapi mengapa rasanya ada yang mengganjal dihati Indri, entah apa itu. Indri begitu tak enak hati.
Hari pengumuman itu pun tiba, tapi Indra tak bisa Indri temukan diseluruh penjuru sekolah. Di rumah pun bahkan ia tak bisa bertemu dengan Indra. Kenapa Indra tiba-tiba saja menghilang? Ada apa sebenarnya ini? Mengapa begitu tak enak hati?
Untuk kesekian kalinya Indri melirik ke arah pintu depan rumahnya sambil berharap akan ada Indra muncul dari balik pintu itu. Tapi Indra tak ada. Ah mengapa begitu menggelisahkan? Indri memutuskan untuk melihat pengumuman itu tanpa Indra. Ah tapi mengapa begitu tak enak hati? Oh mungkin aku gak menang pikir Indri dalam hati. Tapi, bukan itu alsannya. Ia ternyata menang dalam lomba Design Batik itu. Juara satu. Persis seperti apa kata Indra “Kita bisa menang kalau kayak gini !”. Lalu apa yang membuatnya begitu tak enak hati?
Handphone Indri bergetar tanda ada SMS masuk. Ternyata dari Indra. “Ah dasar kunyuk lampung ! kemana aja lo bikin gue khawatir?” Ucap indri kesal sebelum membuka SMS dari Indra.
From: Indraaaaw
Innalillahi wainnailaihiroji’un.
Indri, ke rumah yah, Indra udah gak ada.
SMS itu singkat namun begitu mengiris hati. Apa ini benar? Siapa yang mengirim ini? Mengapa harus seperti ini? Benarkah Indra telah pergi untuk selama-lamanya? Atau ini mungkin hanya perbuatan isengnya? Ah Indra mengapa begitu sulit untuk memahami ini semua? Indri mulai membatin.
Indri mendatangi rumah Indra. Ada bendera kuning berkibar disana. Indri mulai menangis dalam hati. Mengapa semuanya begitu mengarah pada kenyataan? Indri mulai membatin lagi. Indri memasuki rumah duka dimana semua orang bersedih atas kepergian Indra. Ada mama Indra di sana, sedang memandang sedih kepada sesosok yang tengah terbaring tak berdaya dengan ditutup kain batik disekujur tubuhnya. Indri melangkah perlahan. Tubuhnya mulai melemas, dan ia terjauh di samping tubuh yang mulai kaku itu. “Jadi kamu beneran ninggalin aku?” katanya pada sosok yang terbujur kaku itu. “Indra kita menang ! kamu menang !” katanya sedikit berteriak sambil menangis dan mengguncang-guncangkan tubuh yang sudah tak berdaya itu. Mama Indra memberikan sebuah amlop putih pada indri.
Teruntuk sahabatku
(calon kekasihku)
Aku begitu bahagia mengenalmu, sampai aku tau bahwa akhirnya aku harus pergi, aku tetap bahagia. Sadarkah mengapa nama kita begitu mirip? Itu bukan kebetulan. Itu TAKDIR. Kata terakhirku untukmu “kamu calon bidadariku di surga. Amiin”
Surat itu singkat namun menjelaskan semuanya. Indra menutupi penyakitnya, memendam perasaannya, dan menyembunyikan segala hal tentangnya. Indra? Kenapa kamu terlalu sulit di tebak? Kamu terlalu abstrak. ucap Indri dalam hati.
Seusai upacara pemakaman, Indri pulang ke rumah dan mengurung diri di kamar. Aku ingin mengekspresikan diriku, tapi seperti katamu, ekspresi itu tak harus dengan lukisan. Ucap batinnya sambil mulai menggoreskan pulpen pada kertas putih dihadapannya.
Terlalu Abstrak
Kamu terlalu abstrak
Bahkan seniman sehandal apapun
Tak kan bisa memahamimu
Kamu seperti corak pada batikku
Setiap garisnya memiliki makna
Kamu seperti warna pada batikku
Abstrak
Perlu pemahaman lebih
Untuk tahu artinya
Jadilah kekasihku di surga
Maka aku akan jadi bidadarimu di sana
Nantikanlah aku
Dan sambutlah aku dengan senyummu
Senyummu yang abstrak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar